Surabaya, Jawa Timur – Dalam momentum Simposium Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM), melalui artikelnya Immawati Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memantik diskursus tajam dengan menyampaikan keresahan mendalam soal menurunnya tradisi intelektualitas di tubuh organisasi. Dalam forum yang dihadiri oleh perwakilan berbagai daerah tersebut, delegasi Immawati DIY menilai bahwa gerak organisasi saat ini cenderung stagnan dan masih terjebak dalam pola seremonial tanpa pembaruan visi yang substansial. Mereka menyoroti adanya jarak antara narasi besar tentang pemberdayaan perempuan dan implementasinya di tingkat praksis organisasi
Bahkan, mereka menilai bahwa IMM tengah berjalan menuju jurang ketiadaan dalam mengelola nalar kritis dan keberpihakan ilmiah terhadap problem sosial kontemporer.
“Kita sedang berada di tengah krisis keilmuan yang tak disadari. ruang kajian yang seharusnya jadi dapur produksi gagasan, kini banyak terjebak dalam euforia formalitas. IMM tidak bisa tumbuh hanya dengan nostalgia sejarah,” tegas Immawati Afkari, Sekretaris Bidang Immawati DPD IMM DIY.
Pernyataan itu juga ditanggapi oleh Immawati Iefone, Ketua Bidang Immawati DPD IMM DI. Ia menilai, keberanian menyuarakan kritik seperti itu adalah bukti bahwa masih ada kesadaran di dalam tubuh IMM yang ingin bergerak maju.
“Kita butuh lebih banyak suara yang tidak berhenti pada kritik. Harus ada agenda strategis untuk membangkitkan kembali etos ilmiah, termasuk dengan mendorong literasi politik, sosial hingga teknologi yang sesuai zaman,” ujar Iefone.
IMM bukan sekadar organisasi kader, tapi gerakan ideologis. Apabila intelektualitasnya melemah, maka ia kehilangan daya dorong untuk memengaruhi masyarakat. Kritik Immawati DIY itu bukan sekadar keresahan pribadi, melainkan cerminan kegelisahan struktural. Yang justru memperoleh pernyataan setuju dari banyak perwakilan Immawati Indonesia.
Simposium ini, yang sedianya menjadi ruang penyatuan pemikiran, justru berubah menjadi ajang perdebatan terbuka soal arah gerakan. Namun justru di sanalah esensi intelektualitas diuji: bukan pada kesepakatan semu, melainkan keberanian menghadapi ketegangan gagasan
Pertemuan besar ini menjadi cerminan bahwa kesadaran kritis di kalangan Immawati, terus berkembang. Dengan keberanian untuk mempertanyakan, menawarkan gagasan alternatif, dan mendesakkan perubahan, Immawati DIY membuktikan bahwa gerakan perempuan di dalam IMM bukanlah gerakan pinggiran, melainkan kekuatan utama yang siap mengakselerasi transformasi organisasi ke depan.
Tapi, pertanyaannya kini, apakah DPP IMM akan menyambut kritik ini dengan langkah strategis dan pembaruan pola kaderisasi? Atau hanya membiarkannya menjadi suara kritik di tengah riuhnya selebrasi formal?